Senin, 12 April 2010

What is Reading


THEORY Of READING

What is Reading?
“ An activity in understanding text from several ways comperhand information {Language study of text : English}”

What is Reading Comperhension ?
“ Process of constructing meaning from written text, based on a complex coodination of a number of interrelated sources of information “

Purpose of Reading :
“ Get information to know point of the text, understanding particular message from sort of text “


Some Views of Reading :
The Traditional View
The Cognitive View
The Metacognitive View

Nb. Interpreted : menafsirkan / mengungkapkan dgn bhs sendiri
Cultural meaning : makna budaya
Literal meaning : makna bahasa
Comprehension : pemahaman

Types of reading skilss :
Skimming
Reading rapidly for the main points, identifying the main ideas of a text by reading first and last paragraphs (topic sentence, and nothing organizational dues such as tittle, bold, type, italics, capitalized words, captions, etc

Scanning
Reading rapidly to find a specific piece of information usually this skill is used to find information based on question.

Extensive Reading
Reading a longer text, often for pleasure with a emphasis on overoll meaning. Reading a large Quantity of text, where reading confidence a reading fluency are prioritized.

Intensive Reading
Reading a short text for detailed information a slow, carefull reading style that is appropriate for very difficult texts.
"

Sabtu, 10 April 2010

Sisterhood of the traveling pants 2 synopsis


This film tells about the friendship of four women with different characters. carmen like to play in a theater, lena likes to paint, Bridget likes to study fossils and tiby like to direct movies. Four young women continue the journey toward adulthood.

Now three years later after they grduated from high school, these lifelong friend embark on separate paths for their first year of college and the summer beyond, but remain in touch by sharing their experiences with each other as they always have-with honesty and humor.

This is the first time they met after long time. They talked and joked with each other.

After that, they returned to continue their respective activities.

Lena returned to follow her painting class,
Tibby got a part time job as a shopkeeper in a video store, Bridget went to Turkey to study fossils and carmen working behind the scenes for a theater until she met Ian, Ian is one of the stars in this theater. Ian encouraged Carmen to following an audition for a staging.

A friendship is not complete without any problems. problems arise when the Lena's sister brought a pant which has become a friendship symbol among four-girls went to greece. She lost this pants.

Lena felt very guilty and she went to Greece to find this pants. The other girls had plans to go to the greece but Lena didn't know about this. They wanted to find the missing pants together. And then after Lena met the third friends in the greece, they start to looked for the missing pants by a make posters and put it on the public area. But in the middle of finding the missing pants, Bee, Carmen and Tiby make a plans to unite Lena and Kostos. Kostos is Lena's exboyfriend.

At the first time,Lena doesn't interest to make a relationship with Kostos, but they still loved each other and finally they return has a relationship.

And back to the missing pants. They have agreed not to dispute the missing pants, and finally the problem was resolved. Their friendship has been continuing.





"

Senin, 05 April 2010

Theory Mentalism Noam Chomsky

Ada dua pandangan utama mengenai sikap yaitu pandangan mentalism dan behaviorist. Menurut pandangan mentalistik, sikap adalah keadaan internal yang dibangkitkan oleh suatu stimulasi yang dapat menjadi perantara respon selanjutnya (Williams, 1974: 21). Sedangkan menurut pandangan behaviorist, sikap adalah respon yang dibuat oleh orang terhadap berbagai situasi sosial (Fasold, 1984: 147).

Sebagai wujud dari reaksi keras atas behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu memelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (language acquisition device/LAD) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2003:235-236).

Skinner dipandang terlalu menyederhanakan masalah ketika ia menyama-ratakan proses pemerolehan pengetahuan manusia dengan proses pemerolehan pengetahuan binatang, yaitu tikus dan burung dara yang digunakan sebagai subyek dalam eksperimennya, karena menurut pendekatan nativis, bahasa bagi manusia merupakan fenomena sosial dan bukti keberadaan manusia (Pateda, 1991:102). Selain itu ada pula alasan lain mengapa pendekatan nativis merasa tidak setuju terhadap teori Skinner. Alasan tersebut berhubungan dengan bahasa itu sendiri, yaitu menurut para nativis bahasa merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia sebab bahasa merupakan sistem yang memiliki peraturan tertentu, kreatif dan tergantung pada struktur (Dardjowidjojo, 2003:236).

Masih dalam kaitannya dengan bahasa, karena tingkat kerumitan bahasa pula, maka kaum nativis berpendapat bahasa merupakan suatu aktivitas mental dan sebaiknya tidak dianggap sebagai aktivitas fisik, inilah sebabnya mengapa pendekatan nativis disebut juga dengan pendekatan mentalistik (Pateda, 1991:101).

Noam Chomsky berpendapat bahwa seorang anak telah dilahirkan dengan kecakapan semula untuk menguasai bahasa apabila sampai peringkat kematangannya yang tertentu. Pada tiap-tiap peringkat kematangan anak tersebut akan membentuk hipotesis-hipotesis terhadap peraturan-peraturan ahli masyarakatnya. Segala pembetulan kesalahan yang dibuat oleh ahli masyarakatnya akan memperkukuhkan lagi rumus-rumus bahasa yang tersimpan di dalam otaknya.

Menurut Chomsky, anak lahir dengan kemampuan mental untuk bekerja di luar sistem yang mendasari ke campur aduk suara yang didengarnya. Ia membangun tata bahasa sendiri dan menerapkan pada semua suara mencapai otaknya. Tata bahasa mental ini merupakan bagian dari kerangka kognitif, dan apa pun yang didengar disimpan di otaknya sampai dia cocok terhadap apa yang dia sudah tahu dan menemukan sebuah 'benar' tempat untuk itu dalam kerangka ini. Chomsky berpendapat bahasa yang kompleks sehingga hampir luar biasa yang dapat diperoleh oleh seorang anak dalam waktu sesingkat itu. Dia mengatakan bahwa seorang anak akan lahir dengan beberapa kapasitas mental bawaan yang membantu anak untuk memproses semua bahasa yang didengarnya. Hal ini disebut Bahasa Device Akuisisi, dan dia gergaji sebagai daerah khusus yang terdiri dari otak yang hanya berfungsi adalah pengolahan bahasa. Fungsi ini, ia berpendapat, cukup terpisah dari kapasitas mental anak lain yang memiliki. Ketika Chomsky berbicara tentang 'aturan, ia berarti aturan dalam pikiran bawah sadar anak aturan ini memungkinkan untuk membuat kalimat gramatikal dalam bahasa mereka sendiri. Chomsky tidak berarti bahwa seorang anak dapat menjelaskan aturan ini secara eksplisit. Sebagai contoh, seorang anak berusia empat atau lima tahun dapat menghasilkan kalimat seperti saya telah melakukan pekerjaan saya, dia bisa melakukan itu karena ia memiliki sebuah 'tata bahasa mental' yang memungkinkan dia untuk membentuk struktur yang benar sempurna saat ini dan juga untuk menggunakan struktur tersebut dalam benar dan tepat situasi. Tapi dia tidak mampu untuk menentukan pembentukan tegang sempurna sekarang.

Perbedaan antara pendekatan empiris dan rasionalis dapat diringkas dengan cara sebagai berikut:

Behavioris PENDEKATAN PENDEKATAN mentalis

1) akuisisi Bahasa adalah Bahasa adalah bawaan, dalam kelahiran stimulus-respons proses. proses.

2) Bahasa adalah Bahasa yang dikondisikan bukan perilaku seperti perilaku lainnya. perilaku, namun proses mental yang spesifik.

3) Anak-anak belajar bahasa dengan Anak-anak belajar bahasa dengan meniru dan analogi. aplikasi. 4) belajar Bahasa didasarkan pada pembelajaran Bahasa analitis, praktek. generatif dan penciptaan.

5) Peran peniruan, pengulangan, Peran pajanan terhadap bahasa adalah penguatan dan motivasi sangat sangat penting. signifikan dalam belajar.

6) Bahasa akuisisi adalah akuisisi Bahasa hasilnya adalah hasil dari alam. memelihara.

Kesimpulan Studi banding ini membuat satu hal jelas: alam dan memelihara, analogi dan aplikasi, praktek dan eksposur penting. Pembawaan lahir potensi berbaring framework. Dalam kerangka ini, ada variasi yang luas tergantung pada lingkungan. Jenis bahasa yang anak-anak akhirnya tumbuh menjadi dibentuk oleh tanggapan budaya berbasis keluarga, jika tidak dengan cara yang dapat disebut imitasi, maka setidaknya dalam hal anak memilih untuk melakukannya dengan bahasanya. Tetapi kita harus waspada terhadap gagasan bahwa semua anak-anak pengalaman praktek yang sama dan mengikuti jalan pembangunan yang sama saat mereka tumbuh ke dalam bahasa mereka. Setelah terkena sejumlah kecil ujaran, anak mulai menambah prinsip-prinsip yang mendasari ucapan-ucapan dan menulis ucapan-ucapan baru sendiri. Ini adalah cara tata bahasa setiap anak untuk berkomunikasi dengan cara yang cerdas. Dia membuat kesalahan dan menghasilkan kalimat gramatikal.

Teori Mentalis ini pula sangat bertentangan dengan teori mekanis. Teori Mekanis yang banyak menggunakan percobaan ke hewan dan menerapkan bahwa pembelajaran dan pengukuhan bahasa bisa berkembang jika adanya rangsangan dan gerak balas, hal ini bertentangan dengan golongan mentalis yang mengatakan bahwa manusia sebagai “makhluk yang berfikir” dan berbeda dengan hewan. Pembelajaran dan pengukuhan bahasa didapati secara sadar atau dengan kata lain berhubungan dengan daya fikir seseorang.

Menurut Noam Chomsky (1959) proses pembelajaran bahasa pada tingkat permulaan diperoleh tidak semata-mata bergantung kepada rangsangan dan gerak balas saja. Proses Kognitif sudah pasti turut serta. Tanpa peranan kognitif, perkembangan bahasa terbatas pada yang dapat dialami saja, padahal semua komponen bahasa berkembang secara kreatif atau melampaui batasan pengalaman naluri yaitu rangsangan dan gerak balas. Perkembangan bahasa secara kreatif adalah hasil turut sertanya peranan operasi mental atau kognitif.

Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa adalah tindakan kreatif yang hanya ada pada manusia. Kreativitas manusia menggunakan bahasa hanya dapat difahami dengan menerima hakikat bahwa bahasa adalah satu sistem yang teratur sebagai sebagian daripada proses kognitif manusia. Dalam hal inilah, sebuah teori yang digerakkan dengan rangsangan dan gerak balas mampu menimbulkan kreativitas dan kecakapan orang menggunakan bahasa.

Sebagai penganut mentalisme, Noam Chomsky dalam kajian kebahasaan berpendirian bahwa hasil kajiannya tidak untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran bahasa karena memang dia tidak mempunyai alasan untuk itu (Chomsky, 1980). Penganut mentalisme kebahasaan, mengkaji bagaimana makna-makna bahasa diserap oleh anak-anak melalui analisis hubungan logis antar unsur yang hanya melibatkan konteks semotaktik (konteks keterkaitan secara logis antar unsur di dalam kalimat). Karena itu manfaat hasil kajiannya diuntukkan pada pengayaan khazanah kebahasaan dalam bidang psikolinguistik. Karena psikolinguistik mempunyai kaitan dengan ilmu otak (neurologi), pertanyaan muncul: "Apakah kajiannya dapat dimanfaatkan untuk terapi bagi orang-orang yang bermasalah dalam pengucapan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan gumpalan otak yang mengontrol bahasa (language lump)?" Jawabannya adalah "tidak" karena yang memperbaiki "kerusakan bahasa" bukanlah kajian Chomsky, tetapi kajian dan penelitian tentang otak itu sendiri. Kalau demikian, hasil kajian psikolinguistik hanya untuk kajian itu "perseorangan". Manfaat hasil kajian suatu bidang ilmu merupakan hak "prerogatif" pengkajinya sendiri. Dengan kata lain, hasil kajian bahasa yang demikian merupakan inventarisasi kekayaan ilmu dan pengetahuan. Karena itu, salah satu klasifikasi hasil kajian bahasa adalah inventarisasi kekayaan ilmu pengetahuan. Bahasa dalam hal ini berfungsi sebagai ilmu.


"

Sabtu, 02 Januari 2010

Individu dan karakteristik





People In Future

Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini proses pembangunan sektor pendidikan telah mengalami bentuk perubahan dan pergeseran.Pergeseran dan perubahan sektor pendidikan adalah terkait dengan dinamika proses perubahan besar yang berskala global.Ada beberapa unsur yang dirasakan oleh Indonesia sebagai masalah determinan.
A.Perubahan Struktur
Perubahan struktur sosial-ekonomi tampaknya terjadi di negara berkembang (termasuk Indonesia) yaitu kondisi transisi dari masyarakat tradisional agraris ke arah masyarakat modern-industri.Dalam teori ekonomi pembangunan perubahan berlangsung dari kondisi stagnasi ke arah pertumbuhan yang berkelanjutan.Menurut Boediono (1991:21-22) pergeseran itu terjadi cukup lambat karena tenaga kerja di sektor agraris masih cukup dominan (55%) dibandingkan mereka yang berada di sektor industri (12%).Tampaknya peningkatan sektor produksi modern tidak diikuti oleh peningkatan tenaga kerja yang mampu dibidang industri.
Dalam bidang pendidikan,pergeseran struktur sosial ekonomi ini perlu diantisipasi dengan peningkatan kualifikasi tenaga kerja meliputi tingkat ketrampilan dan sikap nilai dari pertanian keindustri.Sektor industri mensyaratkan komposisi tenaga kerja berpendidikan tinggi, berketrampilan dan memiliki penguasaan terhadap teknologi.Di sektor industri dituntut memiliki adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan ketrampilan tenaga kerjanya.Perubahan teknologi yang cepat di sektor industri tersebut menuntut sikap-sikap kerja keras,disiplin kreativitas yang tinggi dan kebebasan.Kendala yang dihadapi negara berkembang ialah perpindahan tenaga kerja dari sektor agraris ke sektor industri dalm waktu singkat.
B.Paradigma Pendidikan IPTEK
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu menjadi indikator keberhasilan suatu sistem pendidikan di suatu negara.Pernyataan ini tidak selalu benar karena sekarang mulai dihubungkan antara sistem pendidikan dan tingkat produktivitas tenaga kerja.Negara yang maju tingkat teknologinya pada masa depan akan kalah bersaing dengan negara-negara industri yang telah meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya.
Untuk belajar ilmu pengetahuan tidak cukup menggunakan akal sehat tetapi harus disadari oleh sikap kritis.Pengembangan ilmu murni memiliki kendala struktural yang cukup kuat.Di Indonesia sebelum terjadi kerja sama yang cukup baik antara masyarakat sekolah dan masyarakat industri.Masyarakat sekolah masih berkiblat pada kepentingan birokrasi,sehingga sisi penawaran tenaga kerja di sektor formal melimpah dalam bentuk tenaga terdidik tanpa keterampilan.
C.Pendidikan Dan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pembangunan yang sedang dilakukan,ternyata mengandung konsekuensi peningkatan SDM. Pergeseran dari struktur agraris ke industri tidak semata tergantung pada sumber alam yang dikelola tapi juga pada cara mengelola sumber alam itu.
Adapun perkiraan terhadaap masa depan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan :
1.Kecenderungan Globalisasi : Di era globalisasi,corak kebangsaan tidak lagi secara dominan dapat ditonjolkan,suatu bangsa tidak lagi merasa asing bila berada di suatu tempat bangsa lain,pakaian,makanan,kebudayaan dan bahkan bahasa tidak lagi menentukan identitas suatu bangsa.
2.Perkembangan Ilmu Pengetahuan : Perkembangan iptek yang demikian cepatnya sehingga lembaga penyelenggara pendidikan selalu ketinggalan untuk mengikutinya,lembaga penyelenggara pendidikan tidak cukup siap untuk membekali lulusannya dengan kemajuan iptek yang ada.
3.Arus Komunikasi Yang Semakin Cepat dan Padat : Pada masa yang akan datang adalah masa dimana arus komunikasi semakin cepat dan padat,orang-orang di seantero dunia dengan cepat bisa memperoleh informasi baru,pengetahuan baru maupun penemuan dan teknologi baru. Hal ini merangsang pihak-pihak tertentu untuk menciptakan dan menghasilkan sistem dan alat komunikasi yang lebih canggih.
4.Peningkatan Pelayanan Yang Semakin Profesional : Masyarakat masa depan adalah masyarakat yang menggunakan tenaga-tenga spesialis.Dengan orientasi yang mendunia setiap layanan pun akan ditingkatkan setaraf layanan yang berlaku secara internasional,untuk itu tenaga-tenaga yang disiapkan adalah tenaga yang spesialis,berkompeten dan profesional.
Untuk itu perlu dilakukan langkah antisipasi pendidikan terhadap masa depan dengan :
1.Tuntutan Bagi Manusia Masa Depan (Manusia Modern) : Agar dapat survive,berhasil dan sukses dalam mengahadapi keadaan yang terus berkemmbang pada masa depan maka perlu diperhatikan : - Memiliki sikap yang terbuka,seimbang antara wawasan internasional dan nusantara
-Menerapkan dan meningkatkan azas pendidikan seumur hidup
-Melengkapi sarana kehidupan dengan alat komunikasi yang up to date
-Memiliki ilmu pengetahuan yang besifat khusus atau kejuruan
2.Upaya-Upaya Mengantisipasi Masa Depan, Terutama Perubahan Dalm Nilai Dan Sikap merupakan hal yang sangat sulit dan tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Mengubah orang dari yang bersifat negative menjadi sikap positive,dari yang dangkal dan emosonal menjadi bersikap matang,luas dan rasional,dan dari sikap yang menolak perubahan menjadi sikap yang menerima dan melaksanakan perubahan. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan di keluarga,pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat,ketiga pusat pendidikan ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah agar mampu mempersiapkan manusia masa depan dengan segala tuntutannya.
sumber : Drs.Kunaryo Hadikusumo,dkk.1996.Pengantar Pendidikan.Semarang:IKIP Semarang Press
cafestudi061.wordpress.com/2008/.../masyarakat-masa-depan/
raflengerungan.wordpress.com/.../“perkiraan-dan-antisipasi-terhadap-masyarakat-masa-depan”